BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang di bawa oleh
gamet akan bertemu secara acak (random).
B.
Manfaat Praktikum
·
1. Dengan mempelajari cara pewarisan gen tunggal akan dimengerti mekanisme pewarisan suatu sifat dan bagaimana suatu sifat tetap ada dalam populasi. Demikian juga akan dimengerti bagaimana pewarisan dua sifat atau lebih.
2. Dapat membantu agar lebih memahami proses pewarisan sifat pada makhluk hidup.
3. Berguna sebagai teori yang dapat membantu dalam hal perkembangbiakan Makhluk hidup.
·
1. Dengan mempelajari cara pewarisan gen tunggal akan dimengerti mekanisme pewarisan suatu sifat dan bagaimana suatu sifat tetap ada dalam populasi. Demikian juga akan dimengerti bagaimana pewarisan dua sifat atau lebih.
2. Dapat membantu agar lebih memahami proses pewarisan sifat pada makhluk hidup.
3. Berguna sebagai teori yang dapat membantu dalam hal perkembangbiakan Makhluk hidup.
BAB II
DASAR TEORI
Teori pertama tentang sistem
pewarisan yang dapat di terima kebenarannya dikemukakan oleh George Mendel pada tahun 1685. Teori
ini diajukan berdasarkan penelitian persilangan berbagai varietas kacang ercis
(Pisum Sativum). Dalam percobaannya
Mendel memilih tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Alasan
dan keuntungan menggunakan tanaman ercis yaitu, ^tanaman ercis tidak hanya
memiliki bunga yang menarik, tetapi juga memiliki mahkota yang tersusun
sehingga melindungi bunga ercis terhadap fertilisasi oleh serbuk sari dari
bunga yang lain, ^penyerbukan silang dapat dilakukan dengan bebas dan akurat,
dapat dipilih mana tetua jantan dan betina yang diinginkan, ^mendel dapat
mengumpulkan benih dari tanaman yang disilangkan, kemudian menumbuhkannya dan
mengamati karateristik keturunannya.
Mendel
mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman ercis. Masing-masing sifat yang
pelajari adalah tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang
bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data
untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah. Mula-mula Mendel mengamati dan
menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid.
Selain itu, Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat(dihibrid),
tiga sifat(trihibrid), dan banyak sifat(polihibrid).
Varietas-varietas
yang disilangkan disebut induk atau parental (P). Biji-biji hasil persilangan
antar parental disebut biji filial (F1). Tanaman yang tumbuh dari biji F1
dibiarkan menyerbuk sendiri untuk menghasilkan biji generasi berikutnya (F2).
Dalam percobaannya, Mendel mengamati sampai generasi F7, dan juga melakukan
persilangan antara F1 dengan salah satu parental (P) (test cross).
Hasil
percobaan monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman F1 hanya salah satu
sifat dari parental yang muncul. Pada generasi F2, semua ciri yang di miliki
oleh parental yang disilangkan muncul kembali. Sifat parental yang tertutup
disebut sifat resesif, dan yang
menutupi disebut dominan. Dari
seluruh percobaan monohibrid untuk 7 sifat yang diamati pada F2 terdapat
perbandingan yang mendekati 3:1 antara jumlah individu dengan ciri
dominan:resesif.
Sebagai
salah satu kesimpulan dari percobaan monohibridnya, Mendel menyatakan bahwa
setiap sifat organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen.
Faktor tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam setiap tanaman tterdapat dua faktor untuk masing-masing sifat, yang
kemudian dikenal dengan istilah 2 alel; satu faktor berasal dari parental
jantan dan satu lagi berasal dari parental betina. Dalam penggabungan tersebut,
setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat
pembentukan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas. Peristiwa
ini kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel
I, yaitu hukum segregasi. Perbandingan pada F2 untuk ciri dominan : resesif
= 3:1, terjadi karena adanya proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina
dan jantan dari tanaman F1.
Pada
manusia diketahui bahwa rambut keriting adalah dominan terhadap rambut yang
lurus. Sebagai contoh seorang pria berambut keriting heterozigot menikah dengan
wanita yang juga berambut keriting heterozigot. Dengan hukum Mendel dapat
dihitung bahwa kemungkinannya 1:4. Apabila mereka mempunyai 3 anak dan semuanya
berambut lurus, apakah ini berarti anak itu adalah hasil dari luar pernikahan?
Tentu tidak, karena hukum Mendel hanya memberikan proporsi gen saja tetapi
tidak menentukan alel apa yang terdapat dalam sel telur atau sel sperma yang
kemudian menjadi keturunan diatas. Dalam hal ini analisis statistik merupakan
salah satu alat yang tepat untuk menjawab permasalahan ini.
Dan persilangan dihibrida
merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Persilangan ini dapat
membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada
kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam
fenotip dengan perbandingan 9:3:3:1. Kenyataannya, seringkali terjadi
penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh
beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot
letal dan sebagainya (Bhimasarf, 2009).
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
·
Kancing genetika
·
Tempat kancing(kantung)
B. Prosedur Kerja
1.
Persiapkan dua buah kantong yang masing-masing berisi 24
kancing genetika yang terdiri atas:
a.
6 merah-hijau(M.H.)=bunga merah dan biji hijau.
b.
6 merah-kuning(M.hh)=bunga merah dan biji kuning.
c.
6 putih-hijau(mmH.)=bunga putih dan biji hijau.
d.
6 putih-kuning(mmhh)=bunga putih dan biji kuning.
Kantong ini
diumpamakan alat kelamin individu dihibrid, sedangkan kombinasi kancing
tersebut merupakan gamet-gamet yang di bentuk hibrid itu.
2.
Ambil satu kancing dari salah satu kantung kemudian
sandingkan dengan kancing yang diambil dari kantung yang lain.
3.
Catat hasilnya.
4.
Ulangi percobaan sampai 10 kali.
5.
Catat hasil keseluruhannya dalam bentuk tabel seperti berikut.
Pengambilan ke-
|
M.H.
|
M.hh
|
mmH.
|
mmhh
|
1.
2.
3.
...
10.
|
||||
jumlah
|
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Pengambilan ke-
|
M.H.
|
M.hh
|
mmH.
|
mmhh
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10.
|
12
13
14
10
11
15
15
15
15
13
|
5
6
4
7
6
5
4
3
3
4
|
5
4
4
6
5
1
5
3
5
4
|
2
1
2
1
2
3
-
3
1
3
|
Jumlah
|
133
|
47
|
42
|
18
|
Penghitungan
|
133÷10=13.3
|
47÷10=4.7
|
42÷10=4.2
|
18÷10=1.8
|
13.3÷1.5=8.8
|
4.7÷1.5=3.1
|
4.2÷1.5=2.8
|
1.8÷1.5=1.2
|
|
Hasil Akhir
|
9
|
3
|
3
|
1
|
B.
Pembahasan
Dari percobaan
tes imitasi genetis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa ternyata
kemungkinan atau peluang yang dimiliki tiap gen itu berbeda. Dan setiap
kemungkinan gen itu memiliki peluang, namun persentase peluang tiap gen itu
berbeda.
Gambaran tentang kemungkinannya
gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak (random) juga
berbeda. Dalam pengamatan, tiap uji
percobaan memperlihatkan hasil yang berbeda-beda.
Dari percobaan diperoleh 133
M.H (Merah, hijau ), 47 M.hh (Merah, kuning), 42 mmH.(Putih, hijau), dan 18 mmhh (Putih, kuning). Jika menurut teori Mendel karena
bersifat dihibrid maka perbandingan
fenotipnya 9:3:3:1. Kemudian,
untuk mendapatkan perbandingan fenotipnya, total terambilnya kancing genetika
pada M.H, M.hh, mmH. dan mmhh dibagi
dengan jumlah percobaan yaitu 10
Hasil yang didapatkan jika diambil rata-rata memperlihatkan hasil M.H.jika
diambil nilai persentase garis besarnya diperoleh sekitar 55,4 %, dan M.hh
memperlihatkan peluang sekitar 19,58 %, pelung untuk mmH. .adalah
sekitar 17,5 % dan peluang untuk mmhh
lebih kecil dari peluang terambilnya yang sebelumnya sekitar 7.5 %.
Jadi, dari hasil percobaan yang dilakukan sudah sesuai dengan teori
Mendel tentang pemilahan bebas dimana gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet
tertentu akan bertemu secara acak, pertemuan ini dimisalkan dengan biji genetis
merah hijau (MH), merah kuning (Mh), putih hijau (mH), dan putih kuning (mh). Yang menunjukkan
bahwa gen-gen tersebut bertemu secara acak sehingga menghasilkan
kombinasi-kombinasi yang menghasilkan M.H (Merah, hijau ), M.hh (Merah, kuning), mmH.(Putih, hijau), dan mmhh (Putih, kuning).
Sehingga ketika dilakukan penggolongan
hasil yang diperoleh mendekati rasio fenotip 9:3:3:1 sesuai dengan Hukum Mendel
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan
yang dilakukan dengan menggunakan biji genetis sebagai imitasi perbandingan
genetis diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa gen-gen yang dibawa oleh
gamet-gamet tertentu akan bertemu secara acak atau random membentuk
kombinasi-kombinasi yang menghasilkan fenotip dengan rasio mendekati
perbandingan 9:3:3:1, sesuai dengan Hukum Mendel II dimana gen-gen yang
menentukan sifat-sifat yang berbeda dipindahkan secara bebas satu dengan yang
lain dan akan terjadi pilihan acak pada keturunannya.
Berdasarkan hasil praktikum kita dapat menarik kesimpulan bahwa terdapat
gambaran tentang gen-gen yang diperoleh dari gamet-gamet yang dipilih secara
acak atau random dan hasil yang diperoleh sesuai dengan teori Hukum Mendel atau
tidak melenceng dari apa yang telah ditetapkan dan telah nonsignifikan.